Aku seperti kaca.

Ini cerita sebuah penyesalan.
Penyesalan dimana aku memutuskan untuk berpacaran dulu sedangkan sebelumnya aku tidak pernah percaya yang namanya "pacar". Menurutku tidak ada bedanya antara pacar dan teman. Pada saat itu. Ya, saat itu. Sampai akhirnya semua mindsetku berubah. Setelah dia hadir. Dia yang awalnya menjadi mimpi indahku, kini menjadi masa lalu yang buruk. Yang tidak ingin kuingat lagi. Yang ingin kubuang jauh jauh dari hidupku.
Ya, aku tidak tau sampai saat ini kenapa ia memutuskanku secara tiba tiba. Di dunia ini gamungkin ada peristiwa yang terjadi tanpa sebab yang jelas. Aku dibiarkan berspekulasi sendiri selama satu tahun lamanya. Sampai akhirnya dia kembali. Ya, kembali kepadaku tanpa status apa-apa. Kami bertemu menanyakan soal keadaan aku ataupun dia sesaat setelah kami berpisah. Sejujurnya aku rindu. Kebiasaannya masih sama. Sifatnya juga ga berubah. Aku masih cinta, dalam diam. Aku ngga berhak apa apa soal dia. Aku bukan siapa siapa dia lagi. Aku cuma masa lalu dia yang berusaha selalu dia lupakan. Ya, aku sadar.
Sampai pada akhirnya di hari kita bertemu, dia memberiku sesuatu. Dia bilang ini kado untukku. Ya, kado katanya. Sampai akhirnya aku tau ini bukan kado yang sebenarnya. Ini hanya sekedar ucapan tidak enak hati karena telah menghilangkan barang dariku, padahal sudah kuikhlaskan sejak lama. Aku tidak tau apakah senangku ini salah. Yang jelas ini menimbulkan masalah besar. Masalah dimana hatiku masih berharap dia untuk kembali sedangkan dia tidak akan pernah kembali. Aku tau memaksakan kehendak bukan jalan yang baik. Tapi memaksa diri supaya memaafkan dia itu juga bukan hal yang baik karena hanya menyiksaku.
Hari itu, aku benar benar hancur. Melihat story dia dengan perempuan barunya. Ya, seharusnya aku memang bahagia karena bahagianya, bahagiaku juga. Tapi entah kenapa aku masih tidak terima. Setelah dua hari yang lalu dia memperlakukan aku seperti dulu. Lalu, apa maksutnya? Sekedar memberikan harapan kosong lalu pergi meninggalkan lagi? Apakah yang kemarin masih kurang? Entah. Aku sampai tidak habis pikir dengan  pola pikirnya yang serba seenaknya. Aku marah. Aku marah terhadap diriku sendiri. Lagi lagi aku bodoh. Masih mengharapkan orang yang tidak pernah sedikit saja mengharapkanku. Aku hanya menangis. Datang ke salah satu temanku dan menceritakan semuanya. Temanku tau harus berbuat apa, dia tau apa yang sebenarnya aku butuhkan saat ini.
Akhirnya, aku memberanikan diri untuk berbicara pada ibunya. Aku tidak ingin jika orang setelah aku merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Sakitnya gaakan ilang. Dia hanya bisa diobati, lalu luka tersebut dapat kapan saja terbuka kembali, sulit sekali untuk mengobatinya. Seperti kaca, aku sudah pecah. Sudah tidak bisa kembali seperti wujud semula. Kaca tersebut bisa utuh jika diganti dengan yang baru. Dan aku belum menemukan kaca yang baru.
Pada akhirnya aku memtuskan utuk tidak memaafkan, sampai dia mati sekalipun, aku tidak akan memaafkannya. Entah untuk alasan dan permintaan siapapun. Aku tidak akan berdamai dengan dirinya. Terlalu banyak luka hati yang kurasakan sendirian. Dan terlalu besar usahaku untuk mengobati itu semua. Enak sekali bukan kalau mudah dimaafkan? Maaf Aku bukan Allah yang maha pemaaf. Aku cuma manusia biasa yang gabisa apa-apa, seperti yang dia katakan.

Comments